PEREMPUAN BERDAYA: MASA DEPAN PELESTARIAN KAWASAN SANGIRAN
DOI:
https://doi.org/10.55981/konpi.2024.136Keywords:
Perempuan Berdaya, Pelestarian, Kawasan Sangiran, IHAAbstract
Abstrak. Tulisan ini bertujuan untuk mencermati pelibatan perempuan dalam pelestarian Kawasan Sangiran. Peran masyarakat di dalam pelestarian telah menjadi ekosistem di Kawasan Sangiran. Sangiran tidak lagi eksklusif milik akademisi saja, tetapi bertransformasi menjadi milik masyarakat, baik di sekitar Sangiran dan masyarakat luas. Transformasi ini sejalan dengan program “reimajinasi” yang dilakukan oleh Indonesian Heritage Agency (IHA) melalui visi organisasi. Hal ini terlihat pada adanya komunitas lokal yang berelasi, misalnya komunitas kesenian, kerajinan, dan kuliner. Salah satu unsur masyarakat yang berpotensi untuk dilibatkan secara aktif adalah perempuan. Ketika perempuan dilibatkan secara aktif di dalam pelestarian Kawasan Sangiran, rantai pelestarian akan dijalin dari generasi ke generasi. Hal tersebut akan memperkuat masa depan pelestarian. Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang diangkat di dalam tulisan ini adalah peran perempuan dalam pelestarian. Diperlukan identifikasi potensi komunitas yang melibatkan perempuan secara partisipatif untuk menjawab permasalahan tersebut. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data, seperti studi literatur, observasi, dan wawancara. Identifikasi diawali dengan melakukan observasi dan wawancara terhadap perempuan yang berperan aktif dalam komunitas. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif hingga tersusun narasi. Hasilnya disusun menjadi narasi yang menggambarkan jalinan pelestarian di Kawasan Sangiran. Narasi tersebut dapat menjadi acuan bagi IHA untuk menyusun program pelestarian yang melibatkan perempuan.
Kata Kunci: Perempuan Berdaya, pelestarian, Kawasan Sangiran, IHA
Abstract. The article proposes to examine the involvement of women in the preservation of the Sangiran area. The community's role in the preservation has become an ecosystem in the Sangiran area. Sangiran is no longer exclusively owned by academics but has transformed to belong to the community around the Sangiran and wider area. The transformation aligns with the "reimagination" program carried out by the Indonesian Heritage Agency (IHA) through the organization's vision. It can be seen in the existence of local communities that are related to Sangiran, such as the arts, crafts, and culinary. When women are actively engaged in preserving the Sangiran area, the chain of preservation will be woven from generation to generation. It will strengthen the future of preservation. Based on the description, the problem is the women’s role in the preservation. It is necessary to identify community potential that involves women in a participatory manner to solve the problem. The approaches taken in this research are qualitative using data collection techniques, such as literature studies, observations and interviews. Identification begins by observing and interviewing women who play an active role in the community. The results are compiled into a narrative that describes the chain of preservation in the Sangiran area. The narrative can be a reference for IHA in developing preservation programs that involve women.
Keywords: Empowered women, preservation, Sangiran Area, IHA
Downloads
Published
Conference Proceedings Volume
Section
License
Copyright (c) 2025 Konferensi Nasional Prasejarah Indonesia 2024

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



