BATIK SANGIRAN: ALTERNATIF PELESTARIAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN SITUS PRASEJARAH SANGIRAN
DOI:
https://doi.org/10.55981/konpi.2024.167Keywords:
batik, sangiran, Pelestarian, Partisipatori MasyarakatAbstract
Abstrak. Kekayaan pengetahuan purbakala yang terkandung dalam Situs Manusia Purba Sangiran telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Urgensi ini membawa kolaborasi para pemangku kepentingan (stakeholders) baik pemerintah, akademisi, dan peneliti lintas ilmu dan lintas negara untuk menjawab persoalan pelestarian Warisan Budaya Dunia tersebut. Berbagai skenario dieksplorasi untuk menemukan model keterlibatan masyarakat dalam dengan mempertimbangkan bahwa masyarakat lokal merupakan aktor kunci yang hidup berdampingan dengan artefak. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan alternatif terbaik pelestarian berbasis masyarakat di Kawasan Sangiran yang dapat berdampak terhadap peningkatan pengetahuan dan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Participatory Action Research (PAR) diaplikasikan dalam proses pembuatan batik bersama 10 pengrajin di dusun Sendang, desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen dan 10 akademisi lintas disiplin ilmu. Batik dipilih sebagai medium karena memiliki potensi pengetahuan lokal yang hidup di budaya masyarakat Sendang secara turun termurun hingga saat ini. Metode PAR menghasilkan 10 motif batik Sangiran yang berisi kombinasi pengetahuan lokal dengan pengetahuan ilmiah. Uji coba publik terhadap batik Sangiran melalui empat peragaan busana (fashion show) baik di Indonesia maupun di Australia menguatkan kemungkinan peluang ekonomi. Penelitian ini juga membuktikan bahwa batik Sangiran dapat menjadi alternatif kontribusi penduduk lokal dalam merawat dan memproduksi pengetahuan prasejarah serta peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan melakukan prinsip pemosisian pembatik sebagai subjek, bukan objek; rekognisi pengetahuan pembatik dan menjalankan prinsip kesetaraan dalam dialog untuk produksi pengetahuan.
Kata kunci: Batik, Sangiran, Pelestarian, Partisipatori Masyarakat
Abstract. The plethora of scientific research has proved rich cultural heritage knowledge in the Sangiran Dome. In order to resolve the challenge of World Heritage preservation, the stakeholders, including government and interdisciplinary-multidisciplinary academics in local, national, and international scope, collaborated. Various scenarios have been explored to invent local community involvement by considering their keyholder position in safeguarding artifacts. Therefore, this study aims to find a community-based preservation model in Sangiran for developing sustainable knowledge and community welfare. Participatory Action Research (PAR) is employed in Batik (traditional cloth) and collaborated with 10 artisans in the Sendang hamlet, Bukuran village, Kalijambe District, Sragen Regency. They worked with 10 interdisciplinary academics. The Batik is a potential of Sangiran villagers that constitutes a heredity of local knowledge. The research resulted in 10 original batik motifs containing a combination of artisans' memories and scientific knowledge. Through public examination, four fashion shows in Indonesia and Australia strengthen the possibility of economic aspects. Eventually, this study demonstrated that the Sangiran batik could be an alternative contribution for the local people to foster and produce prehistoric heritage knowledge and simultaneously increase community welfare opportunities by placing the batik artisans as a subject rather than an object, recognizing the batik artisans' knowledge; and conducting equality in knowledge production dialogue.
Keywords: Batik, Sangiran, Preservation, Community Participation
Downloads
Published
Conference Proceedings Volume
Section
License
Copyright (c) 2026 Konferensi Nasional Prasejarah Indonesia 2024

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



