PENGEMBANGAN SITUS-SITUS PLEISTOSEN – AWAL HOLOSEN GARIS TRANSVERSAL JAWA SEBAGAI MUSEUM SITUS

Authors

  • Indah Asikin Nurani Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN

DOI:

https://doi.org/10.55981/konpi.2024.19

Keywords:

Fosil, Artefak Batu, Lanskap Budaya, Museum Situs

Abstract

Abstrak. Pulau Jawa memiliki banyak tinggalan arkeologi prasejarah sejak Kala Pleistosen hingga Holosen yang memiliki ciri khas tersendiri. Situs-situs ini membentuk garis transversal Jawa dari bagian utara ke selatan. Situs Patiayam, yang terletak di bagian paling utara, menghasilkan banyak fosil Stegodonyang sebagian besar ditemukan utuh. Selanjutnya, Sangiran di wilayah tengah Jawa didominasi oleh temuan fosil manusia purba sehingga ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Di bagian selatan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Oyo – Kali Baksoko, memiliki banyak artefak batu paleolitik dan hingga saat ini belum ditemukan fosil binatang maupun manusia purba. Dari Kala Holosen, situs hunian gua banyak ditemukan di bagian utara dan selatan Data sementara menunjukkan bahwa situs-situs pada kedua kawasan karst ini juga memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan antar situs Pleistosen–Holosen tersebut menarik untuk disajikan sebagai museum situs. Oleh karena itu, diperlukan kajian lanskap budaya guna membangun interpretasi yang utuh dalam konteks kawasan. Kajian semacam ini memungkinkan perumusan museum situs dalam bentuk Geopark Transversal Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik yang diharapkan dapat mengungkap lanskap budaya sejak Kala Pleistosen hingga Holosen pada garis transversal Jawa.

Kata Kunci: Fosil, Artefak Batu, Lanskap Budaya, Museum Situs

Abstract. The island of Java contains numerous prehistoric sites from the Pleistocene to the Holocene, each with distinct characteristics. These sites can be connected through a transverse line stretching from the northern to the southern parts of Java. Patiayam, located in the northernmost area, has yielded numerous Stegodon fossils, most of which are found intact. Sangiran, in central Java, is dominated by hominin fossil discoveries and has been designated a UNESCO World Heritage Site. In the southernmost area, the Oyo–Baksoko River basin is rich in Paleolithic lithic artifacts, although faunal and hominid fossils have not yet been discovered. From the Holocene, cave habitation sites are mostly found in the northern and southern karst regions of Java. Current data indicate that these two karst areas exhibit distinct cultural characteristics. The differences between these Pleistocene–Holocene sites provide compelling grounds for their development as site museums. A cultural landscape approach is therefore required to build a comprehensive interpretation of these sites within a regional context. Such an approach may facilitate the formulation of a site museum in the form of a Java Transversal Geopark. This study employs a descriptive-analytical method to examine the cultural landscape of Java’s transverse line from the Pleistocene to the Holocene.

 

Keywords: Fossils, Lithic Artifacts, Cultural Landscape, Site Museum

Downloads

Published

31-12-2025

Conference Proceedings Volume

Section

Panel 1: Pengelolaan museum dan situs prasejarah di Indonesia