KONSERVASI GAMBAR CADAS PADA SITUS GUA PRASEJARAH DI KAWASAN LEANG-LEANG, MAROS-PANGKEP, SULAWESI SELATAN

Authors

  • R. Cecep Eka Permana Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.55981/konpi.2024.57

Keywords:

Gambar Cadas, Gua Prasejarah, Kerusakan Gambar, Konservasi

Abstract

Abstrak. Gua prasejarah Indonesia menurut penelitian terkini merupakan tertua di dunia berasal setidaknya dari 51.200 tahun lalu yang ditemukan di Sulawesi Selatan. Saat ini di wilayah Sulawesi Selatan terdapat lebih 300 gua yang sudah teridentifikasi sebagai tinggalan manusia prasejarah. Gua-gua prasejarah sejenis juga banyak ditemukan di Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua. Banyaknya temuan gua prasejarah di Indonesia di satu sisi merupakan suatu kebanggaan atas warisan budaya yang luar biasa, namun di sisi lain menjadi pekerjaan rumah yang besar. Permasalahan yang umum dijumpai  pada gua-gua prasejarah tersebut adalah kerusakan baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor budaya (aktivitas manusia). Kerusakan pada gua merupakan ancaman serius bagi pelestarian warisan budaya, khususnya budaya gua manusia prasejarah. Solusi yang dapat diberikan adalah mengkaji faktor perusak baik situs maupun gambar-gambar yang ada di dalamnya. Kajian di Kawasan Leang-Leang, Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan) menunjukkan bahwa faktor perusak gambar gua antara lain mikroorganisma. Analisis laboratorium berhasil mengidentifikasi mikroorganisma itu berupa jamur dari genus Paecilomyces. Berdasarkan karakteristik jamur genus tersebut diketahui bahwa perubahan lingkungan meningkatkan aktivitas jamur.  Selain itu, aktivitas manusia sekitar situs dapat menaikkan agresivitas jamur tersebut dalam proses perusakan gambar cadas. Informasi faktor penyebab kerusakan dapat digunakan dalam upaya konservasi gambar cadas pada gua prasejarah.

 

Kata Kunci: Gambar Cadas, Gua Prasejarah, kerusakan gambar, konservasi

 

Abstract. According to recent research, Indonesia's prehistoric caves are the oldest in the world dating back at least 51,200 years, which were discovered in South Sulawesi. Currently in the South Sulawesi region there are more than 300 caves that have been identified as prehistoric human remains. Similar prehistoric caves are also found in Southeast Sulawesi, East Kalimantan, Maluku and Papua. On the one hand, the discovery of many prehistoric caves in Indonesia is a source of pride for its extraordinary cultural heritage, but on the other hand, it is a big homework assignment. A common problem found in prehistoric caves is damage caused by both natural and cultural factors (human activity). Damage to these caves poses a serious threat to the preservation of cultural heritage, especially prehistoric human cave culture.  The solution that can be given is a study of the factors that damage both the site and the images in it. Studies in Leang-Leang area, Maros-Pangkep (South Sulawesi) show that factors destroying cave drawings include microorganisms.  Laboratory analysis succeeded in identifying the microorganism as a fungus from the genus Paecilomyces. Based on the characteristics of this genus of fungi, it is known that changes in the environment increase the activity of fungi.  In addition, human activity around the site can increase the aggressiveness of the fungus in the process of destroying rock images. Information on factors causing damage can be used in conservation efforts for rock images in prehistoric caves.

 

Keywords: Rock Arts, Prehistoric Caves, damage to rock art, conservation

Downloads

Published

31-12-2025

Conference Proceedings Volume

Section

Panel 4: Perkembangan dan tantangan konservasi koleksi dan situs prasejarah di Indonesia