Synopsis
Kapal Pinisi adalah warisan budaya Sulawesi Selatan yang diwariskan turun-temurun, seperti yang dialami Pak Haji Usman dan Pak Haji Rusli. Proses pembuatannya melalui tahapan dan ritual khusus, dengan ciri khas dua tiang dan tujuh layar. Namun, tradisi ini kini menghadapi tantangan seperti kelangkaan kayu, berkurangnya penerus, hingga persaingan yang tidak sehat. Meski bentuk kapal terus beradaptasi demi ekonomi, nilai budaya harus tetap dijaga. Dukungan pendidikan dan pemerintah diharapkan menjaga Kapal Pinisi agar tetap lestari sebagai simbol kebanggaan Indonesia.
Kapal Pinisi is a cultural heritage of South Sulawesi, passed down through generations, as experienced by Haji Usman and Haji Rusli. Its construction follows special stages and rituals, marked by the iconic two masts and seven sails. Today, however, the tradition faces challenges such as timber scarcity, a declining number of successors, and unhealthy competition. Although the ship’s form continues to adapt for economic reasons, its cultural values must be preserved. Support from education and government is essential to ensure that Kapal Pinisi remains a lasting symbol of Indonesia’s pride.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Copyright (c) 2025 Creator (s)
