Synopsis
Film dokumenter ini menggambarkan tradisi menenun sebagai keterampilan pokok yang diwariskan kepada perempuan Sabu Raijua, sebuah praktik yang sejak lama menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka. Kain tenun tidak hanya dipandang sebagai hasil karya, tetapi juga sebagai harta bernilai tinggi yang menyimbolkan status, kedisiplinan, dan ikatan antargenerasi. Di balik proses menenun yang teliti, perempuan Sabu turut memikul tanggung jawab ekonomi keluarga, termasuk mengolah gula sebagai pangan pokok masyarakat. Peran ganda ini menunjukkan bagaimana mereka menjadi penjaga tradisi sekaligus penggerak keberlanjutan rumah tangga. Film ini menyoroti ketangguhan perempuan Sabu dalam menjaga budaya dan memperjuangkan kesejahteraan keluarga.
This documentary tells the story of the sincere devotion of the Abdi Dalem of the Surakarta Hadiningrat Palace as they carry out duties passed down through generations. The Caos Dahar tradition has continued from the era of the early kings to the time of Pakubuwana XIII. Its practice follows a precise protocol, from the types of offerings to the order of objects and locations that must receive Caos Dahar. For the Abdi Dalem, this ritual is more than an obligation; it is a source of inner peace. They believe that performing Caos Dahar with sincerity brings blessings to their daily lives.
References
"1. Bribin, M. (2022). PERAN PEREMPUAN PENGRAJIN TENUN IKAT DALAM
MENYIAPKAN GENERASI PENERUS DI DESA LOBOHEDE
KECAMATAN HAWU MEHARA KABUPATEN SABU
RAIJUA. Jurnal Gatranusantara, 20(1), 124-133.
Kana N.L. 1983. Dunia Orang Sawu: Suatu Lukisan Analistis Tentang Azaz-Azaz Penataan
Dalam Kebudayaan Orang Mehara Di Sawu, Nusa Tenggara Timur, Universitas
Indonesia.
Detaq, Y.Y. 1973. Memperkenalkan Kebudayaan Suku Bangsa Sawu. Ende: Nusa Indah.
Dugggan, G. & Hans Hagerdal. 2018. Savu: History and Oral Tradition on an Island of Indonesia. Singapore: NUS Press."

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Copyright (c) 2025 Creator (s)
