Templates
Ngenger: Dari Komunikasi Antarbudaya Menuju Transformasi Ideologi
Keywords:
Ngenger, Islam Autentik, Transformasi Ideologi, Komunikasi AntarbudayaSynopsis
Tradisi ngenger sudah biasa berjalan dalam tradisi Jawa. Bisa ditemukan dalam literatur Jawa seperti Sumantri ngenger, atau santri lelono. Berawal dari segelintir orang-orang muda yang miskin namun memiliki tekad baja guna merubah nasib, yang berasal dari Ponorogo. Mereka di tahun 1960an memberanikan diri untuk ngenger, atau ikut numpang hidup, merantau di Ngawi. Anak-anak muda itu berasal dari golongan miskin, islam tradisionalis, abangan dan kejawen. Selain faktor kemiskinan dan keinginan kuat merubah nasib, para pemuda tersebut juga dijadikan kader untuk melawan agitasi politik partai Komunis. Maklum, sejarah saat itu di kabupaten Madiun terjadi pemberontakan PKI yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa kiai. Selain itu, pondok Gontor juga sering diprovokasi. Paling tidak itu adalah harapan dari para tokoh agama yang lebih senior (hlm 50-58).
Selama ngenger, mereka tinggal di rumah-rumah para tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Tempurrejo, Ngawi. Mereka membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti ke sawah, ladang, angon sapi atau kerbau dan merumput. Selain itu mereka juga wajib sekolah formal di madrasah dan sekolah diniyah. Dengan sekolah tersebut, mereka berharap suatu saat bisa merubah nasib, menjadi lebih sejahtera. Awal mula mereka tentu merasakan tekanan psikologis. Namun dengan banyaknya teman dan tekat baja merubah nasib itu semua mereka jalani dengan penuh suka-duka. Mereka bersyukur bisa belajar nahwu shorof, mantiq, ulumul qur’an, ta’lim muta’alim, bahasa Arab, tafsir dan berbagai ilmu lainya, termasuk ilmu umum tentunya (hlm. 68-73)
Selesai sekolah dan ngenger, mereka semuannya kembali ke kampung halaman. Dan memang perubahan nasib itu terjadi. Pertama perubahan nasib mereka sendiri. Kebanyakan para anak muda yang dulu ngenger menjadi PNS guru agama dibawah naungan Departemen Agama. Walau kehidupan mereka tidak kaya, namun sudah mendapat pekerjaan tetap dengan gaji bulanan dan juga menjadi tokoh masyarakat (hlm. 144). Kedua perubahan juga terjadi di masyarakat. Sebelumnya mereka penganut islam tradisional, kejawen atau Islam abangan berubah menjadi aktivis Muhammadiyah. Selain itu, dahulu di daerah Ponorogo, khususnya desa Grogol bukan hanya banyak molimo. Melainkan tradisi yang menyimpang juga sangat banyak. Seperti gemblak, nyadran dengan sesajen di cungkup, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti anak alumni ngenger mendirikan ranting Muhammadiyah. Kurang lebih selama dua puluh tahun, tradisi menyimpang tersebut dihilangkan. Inilah yang disebut Anang dengan moderasi islam autentik. Sebuah praktik dakwah dengan cara moderat dengan menghilangkan praktik menyimpang tanpa menegasikan budaya (191).
Penulis buku ini juga menyoroti praktik keihklasan dan kedermawanan yang autentik pula di akar rumput Muhammadiyah. Walaupun sudah tidak miskin lagi, namun belum bisa dikatakan bahwa hidup para alumni ngenger ini sejahtera. Namun mereka dengan penuh keikhlasan tidak hanya berdakwah islam dengan pikiran dan tenaga, namun juga harta. Itu semua dilakukan demi sebuah prinsip yang mereka sebut dengan “berjuang”. Konsep perjuangan itu mereka peroleh ketika belajar madrasah dari para guru dan ustadz di Ngawi.
Diakhir buku ini, penulis mencoba untuk mengajak refleksi Kembali akan makna dakwah islam “bukan hanya tujuannya untuk amar ma’ruf nahi munkar”, melainkan juga caranya yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar. Karena banyak dakwah yang masih dilakukan dengan kekerasan, mengkafirkan, intimidasi sampai pada pembubaran pengajian. Padahal itu semua dibalut oleh bahasa moderasi (hlm. 201). Selain itu makna “berjuang dijalan Allah” juga sekarang ini telah bergeser. Sehingga para elite organisasi keagamaan sudah tidak lagi mengedepankannya. Sikap pragmatis dan mencintai harta lebih utama dibanding berjihad dijalan Allah. Penulis buku ini khawatir jika itu diteruskan maka berjuang di jalan Allah akan menjadi “mitos”.
Downloads
Download data is not yet available.
References
Aditya, N. R. (2019). LSM Kraton Ngiyom Gelar Upacara Kebo Ketan IV Bulan November. Kompas.Com. https://travel.kompas.com/read/2019/10/04/210000827/lsm-kraton-ngiyomgelar-upacara-kebo-ketan-iv-bulan-ovember?page=all#:~:text=Upacara Kebo Ketan merupakan suatu,rakyat%2C dan dalam merawat kebhinnekaan.
Adonis. (2007). Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam Vol. 1. LKiS.
Adonis. (2009). Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam 2. LKiS.
Afifi, A., & Zuharon, T. (2015). Ayat-Ayat yang Disembelih. Jagat.
Aidit, D. . (1964). Kaum Tani Menganyang Setan-Setan Desa.pdf. Yayasan Pembaharuan.
Al-Ghazali, A. H. M. bin M. (2017). Ringkasan ihya’ ulumuddin. Lontar Mediatama.
Al-Ghazali, I. (2015). Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah). Forum.
Al-Jabiri, M. A. (2014). Formasi Nalar Arab. IRCISoD.
Alexander Thomas Eva-Ulrike Kinast Sylvia Schroll-Machl (Ed). (2010). Handbook of Intercultural Communication and Cooperation. Vandenhoeck & Ruprecht.
Alfan, M. (2013). Filsafat Kebudayaan. CV. Pustaka Setia.
Alfian. (2010). Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammdiyah Terhadap Kolonialisme Belanda. Al Washiat.
Alhidayatillah., & S. (2018). Nahdatul Ulama (Nu) Dan Muhammadiyah : Dua Wajah Organisasi
Dakwah Di Indonesia. Al- Imam Jurnal Manajemen Dakwah. Al- Imam Jurnal Manajemen Dakwah., 1(1), 9–16.
Alhidayatillah, N., & Sabaruddin. (2018). Nahdatul Ulama (NU) Dan Muhammadiyah : Dua Wajah Organisasi Dakwah di Indonesia. Al- Imam Jurnal Manajemen Dakwah, 1, 9–16.
Downloads
Published
September 9, 2026
HOW TO CITE
Copyright (c) 2026 National Research and Innovation Agency
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Details about this monograph
ISBN-13 (15)
978-623-5635-72-9












