Templates
ANTROPOLOGI SASAK ISLAM: Dialektika Antara Mitos dan Tradisi
Keywords:
Dialektika, mitos, Sasak, Islam, TradisiSynopsis
Sasak banyak disebut sebagai masyarakat yang segala sendi kehidupannya lekat dengan Islam. Bahkan ada yang menyatakan “Jika seseorang itu Sasak, sudah tentu ia Islam, jika bukan Islam, sebut saja sebagai orang Lombok”. Sebagai suku mayoritas yang mendiami pulau Lombok, Sasak sebenarnya berhasrat membangun identitas sebagai satu-kesatuan dengan Identitas Islam sebagai agama. Tetapi tentu tidak kita pungkiri juga bahwa di Lombok pun bermacam agama juga hadir sebagai bentuk multikulturalisme. Identitas keislaman yang ingin ditonjolkan juga harus menjadi point utama dalam upaya menstandardisasi lini-lini kehidupan masyarakat yang dianggap ideal.
Dalam tradisi dan mitos yang berkembang di masyarakat pun tak lepas dari sisi Islami yang dijadikan sebagai legitimasi. Mitos secara sederhana yang dipahami sebagian orang justru menjadi status quo, atau kepercayaan yang mapan dalam masyarakat Sasak. Kepercayaan-kepercayaan yang didefinisikan sebagai mitos tersebut merupakan akulturasi dari budaya sebelum Islam, lalu ketika Islam masuk, kepercayaan-kepercayaan itu dikondisikan agar sesuai dengan Islam (Rahmawati, 2018).
Misalnya kepercayaan animisme tentang leluhur yang sudah meninggal bisa menyapa yang masih hidup, hal itu teridentifikasi pada mitos ketemuq, yaitu dipercaya ketika seseorang yang sudah meninggal menyapa orang yang masih hidup, dan itu menyebabkan seseorang bisa sakit. Dimunculkanlah penawarnya berupa pertuq, yaitu rambut yang dipelintir hingga ketika ditarik lilitan tersebut akan berbunyi "tuq". Bunyi "tuq" itu sebagai konfirmasi atas asumsi bahwa sesorang itu ketemuq oleh seseorang yang sudah meninggal. Lalu si sakit itu dianjurkan meludah sesekali meski tidak benar-benar ada ludah yang keluar, lalu membacakan Al fatihah tiga kali untuk orang yang sudah meninggal tersebut.
Ketemuq dan pertuq tersebut merupakan salah satu bentuk sinkretisme (jika boleh kita sebut begitu) antara kepercayaan lokal dengan Islam yang menganjurkan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Kesesuaian antara kepercayaan lokal dan Islam ini tidak serta merta muncul, tetapi itu merupakan bentuk penerimaan masyarakat Sasak terhadap Islam dengan menjadikan keduanya bukan hal yang dikotomis, atau dikontestasikan. Bentuk-bentuk lainnya juga bisa kita telusuri pada tradisi nyiwaq, belayar, matangpulu, nyatus, hingga ngangkat haul untuk orang yang sudah meninggal. Tradisi-tradisi tersebut yang merupakan kepercayaan pra-Islam kemudian diarahkan menjadi rangkaian prosesi yang Islami, dan bahkan seolah menjadi syarat untuk harus terlaksana.
Beberapa ahli menyebut mitos sebagai suatu hal yang direkayasa, atau dimunculkan pada ruang-ruang ketika masyarakat mencari legitimasi atas suatu hal yang direproduksi sebagai kepercayaan (Khadziq, 2009). Mitos itu sendiri bisa berupa hal yang gaib, yang ajaib dan cukup mapan di masyarakat untuk diyakini . Tetapi alih-alih masyarakat Sasak menerima definisi mitos itu sebagai khayalan yang direkayasa, justru mitos-mitos itu semakin mapan ketika hal-hal yang modern tidak cukup memberi ruang bagi masyarakat Sasak mengekspresikan kepercayaan-keperyaan lokalitas tersebut.
Upaya-upaya mengarsipkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat itu membuat penulis tertarik untuk menulis tentang itu dalam cetakan ini. Banyak hal yang mungkin sudah tidak diketahui oleh generasi saat ini terkait kepercayaan-kepercayaan lokal tersebut. Bukan berarti tulisan dalam buku ini ingin memprovokasi masyarakat untuk kembali memapankan itu. Tetapi setidaknya ini menjadi sedikit arsip terkait kepercayaan lokal yang disebut mitos lalu ditransformasikan dengan spirit Islam.
Mitos-mitos yang berkembang di masyarakat Sasak menjadi penanda sebagai masyarakat yang berpikir, salah satunya dengan membangun kepercayaan terhadap hal-hal gaib di alam yang dijadikan sebagai legitimasi atas kepercayaan tersebut. Mitos-mitos tersebut selain lebih lekat dengan hal-hal sugestif dalam pikiran, kemudian melahirkan efek placebo dari apa yang diyakini dari sugesti tersebut. Misalnya tentang mitos pada kata-kata yang dianggap "Mendi" - manjur-, atau pada apa yang didefinisikan sebagai "maleq janji".
Selain berisi tentang mitos-mitos yang diyakini dalam masyarakat, pembahasan dalam buku ini juga mencoba menyajikan terkait dinamika tradisi yang dilanggengkan adat. Tradisi yang dimapankan dengan transformasi yang lebih islami sampai pada kritik atas tradisi yang dipaksakan, salah satunya pada tradisi "peseraq"- memberikan barang-barang dari orang yang meninggal kepada kyai kampung.
Apa yang tersaji dalam buku ini sebenarnya dihajatkan menjadi titik awal pengarsipan kepercayaan lokal yang didefinisikan sebagai mitos, kemudian mencoba menelisik tradisi-tradisi yang sudah tidak lagi dimapankan dalam masyarakat (untuk menyebut ditinggalkan). Tentunya penelusuran atas itu juga membutuhkan waktu yang cukup panjang jika ingin pengarsipan yang lebih kompleks. Masih sangat banyak hal yang perlu digali atas mitos-mitos tersebut karena mungkin tidak kita sadari di lingkungan kita.
Tradisi-tradi yang sudah tidak dilaksanakan tentunya juga tak dipungkiri akibat modernitas yang mengungkungi kita hari ini. Terlebih atas mitos-mitos sebagai kepercayaan lokal yang dulunya cukup mapan dalam masyarakat. Kini mitos seolah mengalami penyempitan makna (peyorasi) ketika mitos lebih dominan dipandang sebagai khayalan, atau hal-hal yang mungkin dianggap mustahil, tak sesuai logika. Tetapi dalam konteks sebagian masyarakat Sasak ada juga yang masih memapankan mitos-mitos tersebut.
Ilmu sains, atau hal-hal yang lekat dengan modernitas tidak menerima mitos-mitos tersebut yang dianggap tak sesuai logika. Tetapi di sisi lain sebagian masyarakat Sasak dengan pengetahuan local genius (kearifan lokal) akan menganggap itu sebagai hal yang perlu direproduksi. Mereka percaya bahwa kadang banyak hal yang dianggap tak sesuai logika, tetapi justru secara magis hal itu benar-benar terjadi. Entah itu sebagai efek placebo dari keyakinan-keyakinan sugestif, atau memang ada campur tangan makhluk-makhluk lain di alam ini, yang dalam masyarakat Sasak sangat meyakini keberadaan mereka sebagai bagian dari Iman.
Mitos-mitos ataupun tradisi yang masih dipertahankan tersebut dilegitimasi oleh kuasa tokoh adat ataupun tokoh agama. Mereka berdalih akan ada sesuatu yang bisa saja terjadi jika tradisi yang sudah mapan tidak dilaksanakan. Begitu juga dengan mitos yang jika dilanggar, ditakutkan akan ada hal-hal buruk yang menimpa. Permainan bahasa dalam mitos-mitos tersebut menjadi sugesti dalam masyarakat untuk mempercayainya.
Apa yang disajikan dalam buku ini menjadi semacam preliminary (permulaan) untuk mengarsipkan lebih banyak lagi mitos-mitos yang masih mapan ataupun yang sudah hilang di masyarakat Sasak. Studi-studi lebih lanjut tentang mitos ataupun tradisi yang hampir hilang tersebut tentunya sebagai kajian akademis yang bisa dikaitkan dengan konsep-konsep antropologi, yang kemudian muncul juga kajian tentang antropologi Islam.
Kajian-kajian itu tidak menutup kemungkinan menjadi pisau analisis lebih mendalam untuk mengkaji Sasak dan dinamika kebudayaannya. Salah satunya yang tersaji dalam buku ini terkait mitos ataupun tradisi yang sudah hilang. Semoga sajian buku ini bisa menjadi gambaran bagi generasi saat ini bahwa dinamika kehidupan yang berkembang, bukan tak mungkin menjadi penyebab hilangnya tradisi atau kebudayaan yang dulunya mapan.
Downloads
Download data is not yet available.
References
Mandel, Ernest. 2013. Pengantar Teori Ekonomi Marxis . Yogyakarta : Bintang Nusantara
Barthes, Roland. 2018. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Rahmawati, Baiq Uyun. 2018. Makna Mitos Dalam Arus Perubahan Masyarakat Muslim Sasak Lombok. Yogyakarta :UIN Suka Press.
Jamaluddin. 2019. Jejak-jejak arkeologi Islam di Lombok. Mataram : Sanail.
________. 2017. Kontribusi Naskah Sasak bagi Pembentukan Karakter Bangsa. Jurnal Manuskripta.
_______ . 2010. Islam Sasak: Sejarah Sosial Keagamaan Di Lombok (Abad XVI-XIX). Jurnal Indo-Islamika.
Barker, Chris. 2004. Cultural Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Budiwanti, Erni. 2001. Islam Sasak ; Wetu Telu versus Waktu Lima. Yogyakarta : LKiS.
Sosani, Yuga Anggana. 2021. Transformasi Musik Pada Ritual Tradisi Kebangru’an: Kajian Sosiologi Seni. Sophist: Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir.
Rahim, Abdul. 2022. Gendang Beleq Yang Adiluhung- Kecimol Yang Rendahan, Dominasi, Resistensi, dan Negosiasi. Jombang : KunFayakun.
Khadziq. 2009. Islam dan Budaya Lokal: Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat . Yogyakarta: Teras.
Suparman, L. Gde. 1994. Babad Lombok. Depdikbud.
Syakur, Ahmad Abd. 2002. Islam dan Kebudayaan Sasak, Studi Tentang Akulturasi Nilai-Nilai Islam Ke dalam Kebudayaan Sasak. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Soehadha, Moh. 2014. Fakta dan Tanda Agama: Suatu Tinjauan Sosio-Antropologi. Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia.
Hagerdal, Hans. 2004. War and culture: Balinese and Sasak views on warfare in traditional historiography. South East Asia Research,Vol. 12, No. 1.
Downloads
Published
September 9, 2026
HOW TO CITE
Copyright (c) 2026 National Research and Innovation Agency
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Details about this monograph
ISBN-13 (15)
978-623-5440-33-0












